Sebilah lidah
Bertubi-tubi menelanjangi
Menyayat berkali-kali
dari semua sudut jiwaku
Sejenakpun terasa ngilu
ketika kata-kata adalah senjata
untuk beribu kamuflase barisan warna
entah putih
entah hitam
entah abu-abu
entah untuk jawaban yang tak kutemu
Sebilah lidah menyayat, menusuk, merobek
Tetap tak kutemu
Dan terus sembunyinya adalah ancaman
Menyemburkan agitasi tanpa henti
Hingga hilang semua eksistensi diri
Kemana mencari jalan pulang
Untuk sebuah nama yang tak lagi jelas bentuk serta rupa
Sebilah lidah
Aku menunggu waktu menumpulkanmu
Batam, Juni 2009
Kamis, 2009 Juni 04
Kamis, 2009 April 23
RINDU BASAH
Aku merindukan jejak hujan yang menapaki tanah
pada pekarangan yang tak pernah terjamah
Jenuh musim kering
Sesaat setelah tak kutemukan rinduku
Mungkin angin telah membawa samar kabar itu
kepada musism-musim lain yang tak pernah singgah
Lalu kuteruskan cerita pada jenuh musim kering
Angan tak berkesudahan tentang hujan
Dedaun yang sesekali jatuh ke tanah
Senyawa mereka rindukan hujan
Datang, datanglah….
Aku ingin kau mendengar gemeratak gigilku
Saat hujan terderai dan bibirku menjadi ungu
Dekap, dekaplah…
Tak perduli peluh kan jauh menggenang
Jangan pernah tertidur sedetikpun
Aku ingin kita terus terjaga dalam basah
Batam,April 2009
pada pekarangan yang tak pernah terjamah
Jenuh musim kering
Sesaat setelah tak kutemukan rinduku
Mungkin angin telah membawa samar kabar itu
kepada musism-musim lain yang tak pernah singgah
Lalu kuteruskan cerita pada jenuh musim kering
Angan tak berkesudahan tentang hujan
Dedaun yang sesekali jatuh ke tanah
Senyawa mereka rindukan hujan
Datang, datanglah….
Aku ingin kau mendengar gemeratak gigilku
Saat hujan terderai dan bibirku menjadi ungu
Dekap, dekaplah…
Tak perduli peluh kan jauh menggenang
Jangan pernah tertidur sedetikpun
Aku ingin kita terus terjaga dalam basah
Batam,April 2009
Minggu, 2009 Maret 01
PESULAP ATAU PENJAJA WAJAH
Disini wajah-wajah menyeringai cuma-cuma
Menjadi gerbong yang terjejer di jalan-jalan kota, perkampungan bahkan sampai ke ceruk duka. Menawarkan perubahan dengan mengucap beribu-ribu mantera yang tergelar pada mimbar-mimbar para pemimpi.
Jika mantera tak jitu
Maka wajah tak laku
Puah...
Kita terjejal pada rayuan untuk membeli
"Ayolah para pemimpi, suarakan suaramu padaku", teriak wajah-wajah yang menjajakan wajahnya
di trotoar-trotoar
di jalan-jalan
di pasar-pasar
di pohon-pohon
bertengger di pagi, siang dan malam hari
Menyeruak lantang pada televisi, majalah dan koran
menyuntikkan utopia pada kerumunan tidur panjang
bertebaran di langit-langit mimpi
dimana-mana berkabut wajah
Tenang saja, masih ada tongkat sakti
jikalau mantera ini telah membuih
yang dapat menyulap mimpi menjadi pasti
seperti merubah bunga menjadi kelinci
yang keluar dari topi
Kau pesulap ataukah penjaja wajah?
Bisakah aku tak memilih diantara kerancuan bentuk dan rautmu?
Menjadi gerbong yang terjejer di jalan-jalan kota, perkampungan bahkan sampai ke ceruk duka. Menawarkan perubahan dengan mengucap beribu-ribu mantera yang tergelar pada mimbar-mimbar para pemimpi.
Jika mantera tak jitu
Maka wajah tak laku
Puah...
Kita terjejal pada rayuan untuk membeli
"Ayolah para pemimpi, suarakan suaramu padaku", teriak wajah-wajah yang menjajakan wajahnya
di trotoar-trotoar
di jalan-jalan
di pasar-pasar
di pohon-pohon
bertengger di pagi, siang dan malam hari
Menyeruak lantang pada televisi, majalah dan koran
menyuntikkan utopia pada kerumunan tidur panjang
bertebaran di langit-langit mimpi
dimana-mana berkabut wajah
Tenang saja, masih ada tongkat sakti
jikalau mantera ini telah membuih
yang dapat menyulap mimpi menjadi pasti
seperti merubah bunga menjadi kelinci
yang keluar dari topi
Kau pesulap ataukah penjaja wajah?
Bisakah aku tak memilih diantara kerancuan bentuk dan rautmu?
Jumat, 2009 Februari 13
DI HALTE
Ingin kujinakkan liar jarum jam
Namun langkah terus memburu
Ditengah bau siang yang asam
15 menit sekali adalah penantian
Aku tak sabar
Sepotong karcis siap menghantar sampai tujuan
Tak ada kursi yang biasa tempat calon penumpang menunggu
"Sudah digondol maling, semalam", kata penjual karcis sambil melintir kumis tipis yang tak manis
Peluh seperti bah yang menggenang
pada ketiak dan lipatan paha
Kenapa pusaran waktu tak segera menyeret bis itu datang
Sementara siangku semakin legam
Namun langkah terus memburu
Ditengah bau siang yang asam
15 menit sekali adalah penantian
Aku tak sabar
Sepotong karcis siap menghantar sampai tujuan
Tak ada kursi yang biasa tempat calon penumpang menunggu
"Sudah digondol maling, semalam", kata penjual karcis sambil melintir kumis tipis yang tak manis
Peluh seperti bah yang menggenang
pada ketiak dan lipatan paha
Kenapa pusaran waktu tak segera menyeret bis itu datang
Sementara siangku semakin legam
Senin, 2009 Februari 09
TERLAMBAT, MUNGKIN
Bukan salahmu mengetuk
Tapi sekarang aku punya sayap kupu
yang tak ingin hanya diam
menunggu musim hujan berlalu
Bukan juga menjemput kenangan
yang tertinggal pada malam-malam yang diam
Maaf sayang
Ini kisah tak seperti 11 tahun silam
Bukankah mawar tak jadi indah
jika tak dengan durinya
Lagi pula, taman tak hanya punya kembang
Ada juga ilalang yang tetap tegak
meski berkali-kali terinjak
Mengapa kau tak melihat itu, sayang?
Larut dalam kebutaanmu yang lama bersarang
Batam, 9 Februari 2009
Tapi sekarang aku punya sayap kupu
yang tak ingin hanya diam
menunggu musim hujan berlalu
Bukan juga menjemput kenangan
yang tertinggal pada malam-malam yang diam
Maaf sayang
Ini kisah tak seperti 11 tahun silam
Bukankah mawar tak jadi indah
jika tak dengan durinya
Lagi pula, taman tak hanya punya kembang
Ada juga ilalang yang tetap tegak
meski berkali-kali terinjak
Mengapa kau tak melihat itu, sayang?
Larut dalam kebutaanmu yang lama bersarang
Batam, 9 Februari 2009
Senin, 2009 Februari 02
BANTAL
Dalam rebahku melukis khayal
Setiamu sampai ke ujung-ujung mimpi
Saat dingin subuh
yang menghantar embun
menjamah tubuh daun dan kelopak bunga
kau bagai laknat yang menyumbat seruan
bagi sujud subuhku
Malam telah memuaikan lelah
Bersaksilah atas cerita cinta semalam
yang hanyalah sisa
dari suatu hasrat yang entah
Setiamu sampai ke ujung-ujung mimpi
Saat dingin subuh
yang menghantar embun
menjamah tubuh daun dan kelopak bunga
kau bagai laknat yang menyumbat seruan
bagi sujud subuhku
Malam telah memuaikan lelah
Bersaksilah atas cerita cinta semalam
yang hanyalah sisa
dari suatu hasrat yang entah
Selasa, 2009 Januari 27
MADE IN JAPAN
Aku berdamai dengan penjajah masa lalu negeriku
Lewat segelas tehmu
yang seperti sumur kawah yang mengepul jumawa
dan kemudian meruang dalam mulutku
yang terkagum-kagum menelan lalu mengendapkannya
Aku berteman dengan penjajah masa lalu negeriku
dengan membiarkan diriku membusuk
menjadi jungkies yang duduk manis
menanti iklan-iklan televisi dan radio
yang lahir dari pabrik-pabrikmu
lalu aku bangga menyebut diriku
generasi MTV
Aku berteman dengan penjajah masa lalu negeriku
denga membiarkan diriku menjadi monster jalanan
menunggang mesinmu melesat pada jalan raya
dan mengubahnya menjadi sirkuit tempat berlaga
Aku berdamai denganmu sampai ke sumsum tulangku
Tapi aku belum merasa merdeka
28 Januari 2009
Panorama Regency Hotel Batam
Lewat segelas tehmu
yang seperti sumur kawah yang mengepul jumawa
dan kemudian meruang dalam mulutku
yang terkagum-kagum menelan lalu mengendapkannya
Aku berteman dengan penjajah masa lalu negeriku
dengan membiarkan diriku membusuk
menjadi jungkies yang duduk manis
menanti iklan-iklan televisi dan radio
yang lahir dari pabrik-pabrikmu
lalu aku bangga menyebut diriku
generasi MTV
Aku berteman dengan penjajah masa lalu negeriku
denga membiarkan diriku menjadi monster jalanan
menunggang mesinmu melesat pada jalan raya
dan mengubahnya menjadi sirkuit tempat berlaga
Aku berdamai denganmu sampai ke sumsum tulangku
Tapi aku belum merasa merdeka
28 Januari 2009
Panorama Regency Hotel Batam
Langgan:
Entri (Atom)