Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2009

SEBUAH TITIPAN

Sesungguhnya, tidak ada sedikitpun cintamu padaku, meskipun tidak sebaliknya denganku. Kau hanya menitipkan janin ini didalam rahimku. Kau ingin janin ini lahir dengan sempurna. Tidak hanya itu, kau juga ingin agar kelak janin ini dapat mewariskan apa yang kau miliki. Baik yang terlihat maupun yang tidak. Aku melihat kesungguhanmu dalam menjaga janin ini. Kau buatkan aku rumah, lengkap dengan isinya. Walaupun tidak seperti rumah Barbie yang berlantai dua, berpagar indah serta garasi lengkap dengan mobil model terkini. Tapi paling tidak rumah ini membuatku bisa lebih bernafas, dibandingkan kost-anku yang cuma berukuran empat kali empat meter. Tidak hanya itu, segala kebutuhanku juga tercukupi. Dia juga rutin membawaku ke dokter kandungan setiap bulannya untuk mengontrol janin yang ada dalam perutku ini. Cukup masuk akal apa yang dilakukannya untukku. Dia ingin agar janin ini tumbuh sehat. Aku anggap ini adalah sebuah amanah yang harus dipegang sampai akhir. Dan aku akan menjaga apa yang kau titipkan ini dengan penuh suka cita serta cinta kasih. Sampai saatnya nanti janin ini keluar dari perutku. Walaupun sekali lagi, tidak ada sedikitpun cintamu padaku.
Aku sah menjadi istri keduanya dengan pernikahan sirih. Tentu saja tanpa sepengetahuan istri tuanya. Walaupun legalitas pernikahan ini tanpa bukti fisik, tapi bagiku yang terpenting adalah penerimaan dimata tuhan. Kusadari untuk tidak berharap lebih dari hubungan ini. Walaupun tidak bisa kupungkiri, aliran darahku setengah hangat mendesir bila mendengar istri tuanya mendapat lebih dari apa yang kudapatkan. Tapi aku tidak begitu saja merasa kalah. Toh dia hanya mempercayaiku untuk mengeram darah dagingnya. Karena jelas-jelas istri tuanya tidak mampu melakukan itu.

Dua bulan kehamilanku kujalani bersamanya tanpa masalah. Hubungan ini terasa hangat. Dia merasa sangat bahagia dengan kehadiran janin titipan ini. Terlihat dari binar matanya setiap mengunjungiku. Dia tidak menyapaku terlebih dahulu, tapi si jabang bayi ini. Sambil menciumi perutku tepat di pucuknya.
“Selamat pagi, sayang”, sapanya sambil mengelus-elus perutku.
“Selamat pagi, papa”, balasku dengan nada yang sengaja kubuat manja.
Aku selalu menggantikan posisi si jabang bayi setiap dia ingin berkomunikasi dengan bakal darah dagingnya. Tak jarang aku menjadi si jabang bayi sekaligus diriku sendiri bila aku ingin mengusir rasa sepiku. Dan aku benar-benar merasakan bahwa aku memang sedang berkomunikasi dengan janin ini. Tak jarang aku mengajaknya bernyanyi atau sekedar menikmati alunan musik. Jazz, itu yang paling dia sukai. Musik yang dapat membius. Lebih-lebih jika ia mendengar Come away with me dari Norah Jones. Dia akan menendang-nendang perutku bila dia merasa belum puas mendengarkan. Dan dia akan tenang, bila aku memutarkan kembali musik itu. Meskipun kami belum pernah bertatap dan saling bicara, tapi aku mulai mengerti tentangnya. Bukankah komunikasi tidak melulu verbal. Dia ada dalam diriku, aku ada dalam dirinya. Kami saling terikat. Kelak, dia akan ku beri nama Jazzy.
***
Dia tumbuh dengan cepat menjadi gadis kecilku yang cantik. Garis mukanya turun dari suamiku. Tapi matanya, tentu saja itu duplikat dari mataku. Kubiarkan dia tumbuh menjadi apa yang dia inginkan. Aku sudah melupakan tentang titipan itu. Jazzy adalah milikku seutuhnya.
Hari ini, suamiku datang padaku dengan raut muka yang mengiba. Dia mengatakan bahwa istri tuanya telah mengetahui hubungan antara aku dan dia. Termasuk juga tentang Jazzy. Awalnya, istri tuanya sangat terpukul dengan berita itu. Lalu, toh dia harus berkaca akan kekuranganya. Akhirnya, istri tuanya itu memaafkan dan mengiklaskan semua. Dengan satu syarat, Jazzy harus ikut dengannya. Dan hal pahit lainnya, dia ingin meninggalkan aku. Itu tak jadi soal buatku. Tapi kalau Jazzy akan dibawa, itu masalah besar buatku.
“Kamu tau awal dari hubungan kita kan?”, dia bertanya tanpa memandang kearahku.
“Lalu?”, aku balik bertanya.
“Mestinya kamu juga tau konsekuensi dari hubungan ini”.
“Aku tau, tapi yang aku tidak mengerti, kenapa Jazzy harus dibawa?”
“Dia darah dagingku”, nadanya mulai tinggi.
“Dan dia juga darah dagingku, aku yang melahirkannya dan aku yang membesarkannya. Kau menikahiku sebagai istri yang sah. Aku bukan penitipan. Silahkan, cari perempuan lain untuk menitipkan cairanmu, agar sewaktu-waktu dapat kau ambil”.
Plak…Tangannya mendarat dipipiku. Dia mendorongku dan mempercepat langkahnya menuju kamar Jazzy sambil berungkali memanggilnya. Bekas tamparan itu masih terasa pedas dipipiku. Tapi aku tidak mau berlama-lama mengeluhkan sakitnya. Kususul dia yang belum menemukan Jazzy. Kutarik kemejanya dari belakang sampai sebagian kemejanya yang tadinya dimasukkan rapi ke dalam celana menjadi setengah keluar. Dia mendorongku lagi sampai aku terjatuh. Dia sukses, jidatku menghantam bibir meja. Saat aku merasakan denyutan dikepalaku semakin menjadi, tiba-tiba aku seakan menemukan dewa penyelamat. Vas bunga. Secepat kilat kuraih dari atas meja dan kulemparkan kearah kepalanya. Kali ini aku yang sukses. Dia ambruk, cairan merah mengalir deras dari luka dikepalanya. Tidak sedikitpun aku merasa panik melihatnya terbujur bersimbah darah. Aku tidak ingin perduli lagi dengan dia. Kubiarkan dia terkapar di lantai. Aku mempercepat langkahku ke arah kamar Jazzy. Aku tidak menemukan dia disana. Tapi aku sudah hafal tempat persembunyiannya. Perlahan kuayunkan kakiku ke arah ranjang. Aku setengah menunduk. Aku tau, dia sadar akan kehadiranku sedari tadi. Perlahan dia memunculkan kepalanya dari kolong ranjang. Lalu keluar dari tempat persembunyiannya itu. Kami saling menatap dan aku tertegun lama memandangi wajahnya. Jazzy memelukku erat. Kubaringkan dia diatas ranjang dan ikut berbaring disampinya. Kudekap dia lebih erat. Dia menyembunyikan wajahnya didadaku. Lagu itu memenuhi ruangan ini. Sayup kudengar dia terbata ikut menyanyikannya.
*Come away with me in the night
Come away with me
And i will write you a song
Come away with me on the bus
Come away where they can’t tempt us
With their lies

Kami ingin merasakan hangat ini lebih lama lagi.

Sri ruwanti
Batam, 13 Januari 2009

* Dari lirik lagu Come away with me oleh Norah Jones

RAHASIA MUSTIKA

Ia ingin mengucapkan sesuatu. Mulutnya tak henti-henti bergerak. Namun suaranya seperti tertahan ditenggorokkan. Berkali-kali ia mengerang seperti menahan rasa sakit. Ia hanya bisa terbujur diatas kasur. Sudah satu bulan Bulek Tum bertahan dengan kondisi seperti itu. Ia seperti mayat, tapi nyawa masih bersarang dalam tubuhnya. Tidak merasa mati, tapi juga tidak menikmati hidup. Kabar yang santer terdengar, bulek menanamkan sesuatu kedalam tubuhnya. Sesuatu yang membuat dia terlihat bercahaya, sehingga orang bagaikan tersihir bila melihatnya, menuruti apa yang diucapkannya tanpa ada pemaksaan. Aku kasihan melihat kondisi Bulek Tum. Dia seakan benar-benar akan menjemput ajal. Aku sebenarnya malas mendengarkan gosip murahan berbau tahyul tentang Bulek Tum. Tapi aku juga sudah menyerah dengan hasil pemeriksaan medis yang tidak menunjukkan apa-apa tentang kondisinya. Akhirnya, aku meminta kesediaan Mbah Darmo, orang pintar didesa ini untuk melihat kondisi Bulek Tum.
“Bulekmu menanamkan sesuatu dalam tubuhnya, dan itu harus dicabut terlebih dahulu agar jalan menuju ajalnya tidak tersendat”, begitu penjelasan mbah Darmo.
Terus terang, aku kurang mengerti dengan penjelasannya. Seingatku, Bulek tidak pernah menjalani operasi apapun untuk menanamkan sesuatu dalam tubuhnya. Mbah Darmo tersenyum mendengar tanggapanku akan hasil terawang mata batinnya.
“Kendi…Kendi….kamu itu katanya orang terpelajar. Tapi koq ya cara berpikirmu itu terlalu sederhana. Pantes saja namamu Kendi, diisi hanya untuk dikosongkan kembali”, ia seperti sedang menyindirku.
“Lho, Kendi itu memang buat nampung, Mbah. Lagipula Kendi itu merupakan bentuk kerja sama yang baik antara unsur tanah dan air. Supaya bisa dimanfaatkan oleh manusia. Kalau fungsinya buat nampung, memang harus dikosongkan dulu tho Mbah? Kalau masih ada isi terus diisi lagi, yah….bisa meluber kemana-mana, Mbah”, balasku sambil terbahak-bahak. Dia tidak membalasku, hanya wajahnya yang dingin seakan mengutukku. Aku terdiam, kupikir memang aku terlalu berlebihan. Tak ada yang pantas ditertawakan dari ucapanku tadi. Apa yang kulakukan hanya sekedar bentuk kemenangan atas usahaku membalas sindirinya. Dan seharusnya, itu kunikmati sendiri saja. Lagipula, tiba-tiba ada sedikit kekhawatiran bila ternyata dia benar-benar membalasku dengan manteranya. Maka, jadilah aku orang yang tuli, bisu, atau orang yang kehilangan akal seperti gosip tentang orang-orang yang mendapat bala setelah berurusan dengan Mbah Darmo. Aku jadi teringat perkataan Pak Mardi, tetangga kami yang menganjurkan agar Bulek Tum diterawang oleh Mbah Darmo.
“Bila Mas Kendi bertemu Mbah Darmo, satu hal yang mesti Mas Kendi jaga, u-ca-pan. Jangan sampai ada ucapan yang menyinggung perasaannya, Mas. Kalau sampai beliaunya tersinggung, jadi panjang urusannya. Yah….saya sih bukan sok ngajarin, cuma saya paham penyakit orang-orang sini yang meninggalkan desa dalam waktu lama.
Mulanya aku tidak begitu perduli dengan apa yang diucapkan Pak Mardi. Karena menurutku ia terlalu cepat menyimpulkan bahwa aku terjangkit penyakit yang sama. Tapi tatapan dingin Mbah Darmo sedikit menciutkanku untuk mengingat-ingat nasehat Pak Mardi.
“Lalu apa yang harus kami lakukan, Mbah?”, aku mencoba mencairkan suasana dengan meminta petunjuk darinya. Aku harap usahaku ini bisa membuat aku terlihat lebih rendah hati dimatanya. Supaya dia tidak jadi mengirim manteranya untukku.
“Yah….kita harus melakukan ritual pencabutan mustika yang tertanam di tubuh bulekmu itu”, jawabnya sambil menatap tajam ke arah Bulek Tum.
“Ritual?”
“Ya, bulekmu harus menyelesaikan urusannya sebelum ajalnya tiba.”
“Maksud Mbah?”
“Mustika itu yang menjadi urusanya. Mustika itu adalah urusannya didunia, maka dia tidak boleh membawanya ke liang lahat.”
Aku mulai mengerti apa yang diucapkannya. Aku tidak ingin Bulek Tum terus menerus tersiksa. Maka, akan kulakukan semua ini semata-mata untuk membebaskannya dari siksa itu. Menyelesaikan urusan dunianya, mencabut mustika yang tertanam dalam tubuhnya.
****
Cuma aku dan ibu kerabat satu-satunya yang mempunyai hubungan darah terdekat dengan Bulek Tum. Sehingga, yang menimpa bulek Tum kali ini adalah tanggung jawab kami. Sejak kepergian bapakku dan suaminya, tinggal kami kerabat Bulek. Bulek sendiri tidak mempunyai anak. Sehingga akulah pengganti anak-anak yang tidak pernah lahir dari rahimnya. Kesendirian Bulek tidak membuatnya menjadi lemah. Angin emansipasi berhembus juga ke desa kami. Bulek menjadi orang yang cukup disegani. Dia pandai mengolah perkebunan dan berdagang. Tidak hanya itu, bulek juga dipercaya oleh warga desa menjadi pemimpin. Warga desa percaya bahwa Bulek Tum merupakan sosok pemimpin yang dapat merangkul warga. Selain itu Bulek juga mempunyai konsep-konsep yang jelas dengan arah pembangunan desa. Dia terbuka dengan hal-hal yang baru, tapi tidak mentah-mentah menelannya. Sehingga apa yang disampaikan kepada warganya tidak menjadi sesuatu yang bias. Itulah yang membuat Bulek Tum tampak cerdas dimata warga desa. Sehingga dianggap layak untuk menjadi Kepala desa. Bulek sudah dua periode memimpin. Pernah ia berniat mundur pada pemilihan yang kedua. Semata-mata untuk memberikan kesempatan kepada yang lebih muda. Namun warga desa belum ingin posisinya digantikan. Itulah yang diceritakan Ibu disela-sela keterjagaan kami menjaga Bulek Tum.
Ibu sendiri sebenarnya agak menyangsikan dengan cerita Mbah Darmo. Beliau tidak yakin bahwa telah tertanam sebuah mestika penyebar pesona di dalam tubuh Bulek Tum. Karena Ibu mengenal bulek sejak dia masih kecil. Menurut ibu, kecerdasan dan rasa percaya diri yang tinggi dari bulek Tum memang sudah tertanam sejak kecil. Sesuatu yang secara alamiah dimiliki dan semakin terasah seiring berjalannya usia. Bukan karena pemikat apapun. Tapi demi kebaikan bulek, ibu merelakan untuk mencoba jalan ini. Dan besok, Mbah Darmo akan datang untuk melakukan ritual pencabutan itu.
****
Kami sudah mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk ritual itu. Kembang tujuh rupa, kelapa gading dua buah, menyan dan kain putih selebar sapu tangan dengan keempat sisinya yang berukuran sama. Itulah syarat-syarat yang diminta Mbah Darmo. Seakan tidak percaya kalau Bulek Tum menanam mustika pemikat yang bernama Mustika Kencana Ungu di dalam tubuhnya. Yah, Mustika Kencana Ungu. Menurut Mbah Darmo, itulah jenis mustika yang ditanamkan dalam tubuh Bulek Tum.
Aku dan Ibu duduk di sisi kiri dan kanan ranjang tempat Bulek terbaring. Tak ada suara yang keluar, hanya mata kami tertegun memandanginya. Sesekali, air mata ibu pecah dari matanya yang sembab.
“Bulekmu orang baik, Ndi”, ucapan ibu memecahkan keheningan kami.
Aku tak menjawab, hanya menganggukan kepala tanda setuju. Hanya itu yang aku lakukan menanggapi kegelisahannya yang terlihat semakin menjadi diantara sesenggukannya. Aku berjalan keluar kamar, melihat wajah malam dari balik jendela di ruang tamu. Mbah darmo belum juga datang. Ku bakar sebatang rokok dan menghirupnya cukup dalam. Lumayan, aku bisa sedikit tenang. Belum sampai hisapan ke-tiga, kudengar pintu diketuk dan aku bergegas membukanya. Mbah Darmo. Aku tertegun, tidak langsung mempersilahkannya masuk. Sampai akhirnya dia sadar akan kebingunganku.
“Sudah dipersiapkan?”, suaranya yang dalam dan wajahnya yang dingin menghentakku.
“Oh, su…su..sudah, Mbah?”, bodoh sekali aku terlihat gelagepan didepannya. Aku mempersilahkan dia masuk. Seperti biasa, dia mengenakan pakaian serba hitam. Aroma tubuhnya yang khas menyan dan melati. Di tangan kanannya memegang kepala kendi. Yah, benda yang sama dengan namaku.
“Sudah bisa dimulai?”, tanyanya.
“Silahkan, Mbah”
Aku menarik pelan bahu Ibu, yang sedari tadi masih duduk di bibir ranjang. Kuajak dia untuk mundur sedikit kebelakang, agar Mbah Darmo dapat lebih leluasa menjalankan ritualnya. Kulihat Mbah Darmo mengangkat kepala Bulek Tum yang terbaring sampai posisi setengah duduk. Didekatkannya kendi itu ke mulut Bulek, dan Bulek mengecap cairan yang keluar dari kendi itu pelan. Bulek dibaringkan kembali. Selanjutnya, aku tidak ingin melihatnya. Kuajak Ibu untuk menunggu diluar kamar. Biarkan Mbah Darmo yang menyelesaikannya. Menyelesaikan urusan Bulek yang tidak boleh dibawanya ke liang lahat.
*****
Dua minggu setelah kepergian Bulek, kami masih merasakan luka yang mendalam. Tidak banyak warga yang hadir menjelang acara pemakamannya. Cerita tentang susuk pemikat itu telah mengubur segala usahanya untuk memajukan desa ini. Sungguh tidak berimbang. Tapi aku coba untuk mengiklaskannya. Belum selesai aku mengurai kenangan tentang Bulek, dari kejauhan, kulihat Lik Gun memanggilku berulang-ulang sambil setengah berlari. Sepertinya, carik desa itu ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
“Ada apa Lik, sepertinya buru-buru sekali?”, tanyaku.
“Apa mas Kendi gak berniat ikut dalam pemilihan kepala desa?”
“Kuburan bulek saja belum kering, Lik”, jawabku sambil tersenyum tipis.
“Tapi sudah ada yang mulai menyusun kekuatan, mas”, wajahnya semakin serius. Kali ini aku tidak tersenyum, tapi tertawa terbahak-bahak. Lik Gun mengerutkan dahi, seperti heran dengan tingkahku.
“Ini serius, mas”, kali ini nadanya lebih tegas.
“Aku juga serius, Lik. Kayak mau perang saja menyusun kekuatan. Lagi pula, memang harus ada yang menggantikan Bulek Tum. Biarkanlah mereka, Lik”.
“Tapi sampean yang dianggap saingan terberat mereka, mas”, kalimatnya cukup antusias. Kali ini aku yang membelalakkan mata, mengerutkan dahi. Rasanya aku belum memalukan apa-apa, berpikir untuk maju menjadi calon kepala desa saja tidak. Mengapa ada yang berpikir aku sebagai saingan. Lalu, aku iseng bertanya, “kira-kira kalau aku maju nanti, siapa saingan terberatku, Lik?”
“Pak Mardi”, jawabya tanpa berpikir panjang.
Aku tidak menjawab. Hanya mengarahkan telunjukku kearah rumah yang ada di sebelah rumahku. Lik Gun pun hanya mengangguk. Aku mengepalkan kedua tanganku. Kali ini, aku benar-benar akan menyusun kekuatan.

Sri Ruwanti
HSH-Tanjungpinang, 3 January 2009

Selasa, 21 Oktober 2008

LEBARAN YANG TAK DATANG

Sudah tiga kali lebaran dia gak mudik. Hidupnya sudah seperti lirik dangdut saja. Tiga kali puasa, tiga kali lebaran dan gak pulang-pulang. Itu juga lagu yang selalu dia dendangkan menjelang lebaran ini. Yah, mungkin merasa lirik lagu itu pas dengan dirinya. Sampai-sampai, dalam sehari bisa berulang-ulang kali diputarnya lagu itu. Berbalut short dan tanktop, tubuhnya meliuk-liuk mengikuti musik sambil tak henti mulutnya bernyanyi. Terkadang goyangannya seperti tak terkendali. Diangkat salah satu kakinya dan diletakkan dibibir ranjang. Tangannya diacung-acungkan sambil memutar-mutar kepalanya. Rambutnya yang tergerai mengikuti ritme itu. Dia seperti kuda binal yang siap dilecut. Goyang versi alat berat semuanya sudah dia keluarkan. Dari goyang ngebor, ngecor, gergaji sampai patah-patah. Namun dia seperti tak kehabisan tenaga. Hanya aku yang terpingkal-pingkal melihat ulahnya. Namun kami tersentak begitu mendengar pintu digedor dari luar.

“Cisca.........Evi.......buka pintunya”, teriakan dari luar itu seakan menjebol pintu. Keduanya saling berpandang. Ia langsung mematikan dentuman musik koplo itu.

“Weleh.....Vi, ngopo toh mbokmu kui. Ganggu kesenangan orang saja”, protesnya.

“Yah....koe iku sing koyo kesetanan, pantes aja dia marah. Sudah sana, buka pintunya”, perintahku.

Perlahan-lahan dibukanya pintu kamar itu. Dua lelaki berbadan tegap mengapit seorang wanita dengan dandanan glamour berdiri didepan pintu kamar. Kami memanggilnya Mami. Wanita itu sudah tidak muda, namun juga tidak terlalu tua. Mungkin karena dia pandai bersolek. Sehingga kerut-kerut diwajahnya tak jelas terlihat. Aku benci aroma parfumnya. Menyengat. Tatapan wanita itu serta dua bodyguard yang menemainya tampak tak bersahabat.

“Hei....kalian ini mau diingatkan berapa kali sih. Kamu lagi, suaramu itu udah gak enak didenger, pake teriak-teriak lagi. Mengganggu, tau? Bisa-bisa tamu-tamu disini pulang semua. Kamu mau bikin aku kere apa?” , semprot wanita tambun itu.

“Yah...maaf, Mi. Kita cuma lagi suntuk koq. Jadi butuh hiburan.”

“Gak pake hibur-hiburan. Kalian disini tuh buat kerja. Bukannya sante-sante”, logatnya lebih kampungan ketimbang kami yang benar-benar anak kampung.

Kami yang tadinya larut dalam canda, hanya tunduk pasrah. Tak ada lagi sepatah kata terlontar. Kami hanya menerima itu sebagai sebuah kesalahan dan berharap tak ada hukuman untuk kesalahan itu.

“Ingat ya, kalau kalian males-malesan, kalian gak akan pernah bisa membayar hutang-hutang kalian itu. Sepuluh tahunpun kalian kerja disini, belum tentu bisa membayar hutang-hutang kalian. Ingat itu!”, ucap sang mami sambil berlalu dan menyisakan cibirannya.

Cisca menyeret langkahnya gontai dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tak ada sorot bahagia seperti saat dia menari-nari tadi. Dilingkarkan sebelah tangannya diatas perutku yang terebah disampingnya.

“Vi....aku mau kabur”, bisiknya ditelingaku.

“Gila kamu”, balasku sambil meliriknya.

“Aku akan lebih gila kalau terus-terus disini”.


****

Untuk ukuran kampung kecil, rumah itu terlihat lebih mencolok dari rumah-rumah lainnya. Bisa dibilang hanya rumah itu yang berpagar tembok, sementara rumah lain disekitarnya hanya berpagar bambu dan kembang kantil yang dipotong sepinggang orang dewasa agar tak menjulang menutupi rumah. Perpaduan warna yang manis antara tembok putih dan kusen yang dicat hijau muda. Sangat menyatu dengan alam pedesaan yang segar. Namun rumah itu tak luput dari kerinduan. Dalam kesibukan aktivitas menjelang lebaran, ada sosok yang diharapkan hadir ditengah-tengah para penghuni rumah.

“Bu, sudah tiga kali lebaran ini mbak Sis ndak pulang. Apa dia ndak kangen sama kita lagi, Bu?”, wajah manis usia remaja itu bertanya pada sosok wanita setengah baya yang dipanggilnya ibu.

“Mbak Sis pasti kangen sama kita semua, nduk. Cuma mungkin dia lagi sibuk, jadi ndak bisa pulang. Kalau mbakyumu itu ndak kangen dan dan ndak ingat lagi sama kamu, ndak mungkin dia ngrimi ibu uang buat beli motor kamu. Supaya kamu ndak capek lagi kalau sekolah. Iya toh?”, suara wanita itu lembut dan terdengar bijak.

Keduanya lalu berpelukan. Pelukan yang hangat, dalam dan penuh pengharapan. Mereka berharap sosok yang dibicarakan itu akan hadir ditengah-tengah mereka pada lebaran tahun depan. Tak ada yang lebih indah dalam lebaran selain sebuah kebersamaan. Dan itu menghanyutkan keduanya dalam desiran air mata.

****

Kupikir dia nekat. Siapa juga yang akan bertahan hidup seperti ini. Aku dan dia adalah orang-orang yang terjebak. Aku selalu punya keinginan untuk lepas dari penjara ini. Tapi, aku tak punya keberanian seperti dia. Membayangkan untuk kabur saja aku tak berani. Aku tak kuat bila nanti kalau ternyata aku gak berhasil kabur aku bakal digilir oleh bodyguard-bodygardnya Mami. Belum lagi sebatan tali pinggan yang segeda gaban. Itu gak akan segan-segan dilakukan mami sampe kita pingsan. Kalau sudah pinsan, belum tentu dia mau berhenti menyiksa. Sudah disiapkannya seember air buat menyadarkan yang pinsan. Kalau dibanguninnya cukup diusap dengan air sih masih enak, tapi gak begitu. Dia bakal nyiram. Amit-amit deh. Aku pernah melihat itu semua. Waktu Mila ketangkep mau melarikan diri. Bayangan itu gak pernah hilang dari ingatanku. Keinginan untuk lari dari tempat ini, gak sekuat ketakutanku melihat penyiksaan yang Mila alami. Dan sekarang Cisca mulai nekat.

“Kamu serius?”, tanyaku memastikan.

“iya”

“Gak takut?”

“Gak, toh sama saja Vi, kita juga bakal membusuk disini. Kamu harus bantu aku ya?”

Aku tidak mengiyakan. Tapi juga tidak menolak. Hanya senyum tipis yang bisa kuberikan atas kenekatannya. Aku berharap semua akan berjalan baik-baik saja. Sebelum mata kami terpejam, lirih suaranya kudengar, “Vi, kamu tau gak kenapa bang thoyib gak pulang-pulang?.”

Aku malas membalas pertanyaan itu. Kupikir dia pasti sudah terkena sindrom bang thoyib. Kasihan, dia berharap bisa merasakan lebaran bersama keluarganya dikampung. Dia pernah cerita, kalau setiap uang yang dikirimnya kekampung itu sudah jadi motor, rumah, dan kambing tiga ekor. Tapi itu semua tak membuat ia merasa lega. Justru ia merasa sangat bersalah sama bapak ibunya. Yang orang tuanya tau, dia disini kerja disalon, tungkas pangkas rambut. Padahal sebenarnya cuma jadi, lonte. Aku juga tidak sanggup menyimpan sebutan itu terlalu lama dikepalaku. Bukan cuma dia yang harus dikasihani. Semua perempuan disini bernasip sama. Termasuk aku. Kupalingkan wajahku ke tembok. Dia masih samar bernyayi disebelahku. Tapi aku sudah tak kuat menahan mataku. Kubiarkan lelap itu datang.

******

Mataku masih terasa berat. Namun suara yang kudengar memaksaku untuk segera bangun. Aku mengenal suara itu. Ya ampun, itu suara Siswatun alias Cisca teman sekamarku. Disini semuanya bisa berubah, bahkan terkadang kami tak mengenali diri kami sendiri. Suara itu semakin jelas melewati kamarku. Teriakannya histeris, aku mulai berpikir sesuatu yang buruk terjadi pada temanku itu. Aku keluar dari kamar, dan kulihat teman-teman yang lain sudah berdiri dipintu kamar mereka masing-masing. Kudekati sumber suara itu, semakin lama semakin jelas. Dia meraung-raung kesakitan, dan kulihat tubuhnya sudah terkapar dilantai. Aku mendengar teriakan terakhirnya saat kepalanya dibenturkan ke tembok. Darah meleleh dari ujung keningnya. Setelah itu dia tak bersuara lagi. Langsung kutangkap tubuhnya yang ambruk. Nafasnya satu-satu. Mami dan kedua bodyguard-nya sinis menatapku. Aku tau, mereka gak setuju dengan apa yang kulakukan.

“Hei...Evi, lihat temanmu itu. Kamu mau seperti dia, heh? Coba saja kalau berani”, Mami malah berbalik memarahiku.

Kupandangi wajah temanku ini. Penuh lebam dan dingin. Sesekali dia nyengir menahan sakit. Bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu.

“Evi.....kamu masih ingat pertanyaanku kemarin?”, tanyanya

“Apa?”, balasku

“Kenapa bang Thoyib gak pulang-pulang?”.

Juangkrik! Anak ini masih bisa bercanda. Sekali lagi, aku malas menjawab pertanyaanya itu. Aku mencoba mengangkat tubuhnya, tapi dia menahannya.

“Dengarkan aku , Vi. Bisa jadi bang Thoyib sudah membusuk. Kamu juga kalau lama-lama disini bisa membusuk”, ucapnya terbata.

Setelah itu aku tak mendengar suaranya lagi. Tubuhnya semakin dingin. Kugoncang-goncang tubuhnya berharap dia akan sadar. Tapi dia tak bergerak sedikitpun. Mami menggerakan kepalanya sekaan memberi perintah kepada bodyguard-nya. Mas Jack, pria bertubuh besar dan tegap itu menempelkan jarinya keujung hidung Cisca.

“Gak bernafas, bos”

“Bungkus!”, instruksi itu tegas diberikan oleh Mami.

Kedua bodyguard itu merampas Cisca dari pelukanku. Aku tak bisa melawan. Hanya pasrah tersingkir dan terkulai. Aku hanya bisa melihat tubuh kaku Cisca dibungkus seprei tak beraturan. Darah yang meleleh dari luka-lukanya menembus seprei. Lalu kedua pria itu menggotongnya keluar. Aku tak tau akan dibawa kemana dia. Hanya rasa bersalah yang terasa begitu sesak didadaku. Maaf teman, aku tak bisa berbuat banyak untukmu. Suasana hening, kuayuankan langkahku kembali kekamar. Aku telentang diatas ranjang. Samar kudengar lagu yang selalu dinyanyikan Siswatun alias Cisca dari kamar Mila.

Tiga kali puasa, tiga kali lebaran
Abang tak pulang-pulang
Sepucuk suratpun tak datang

Bang thoyib.......bang thoyib............
Kenapa tak pulang-pulang......


Batam, 26 September 2008

KEMBANG DITAMAN ISTRIKU

Aku tak jua beranjak dari meja kerjaku. Jemariku hanya menari-nari diatas keyboard komputer. Mungkin ini yang juga pernah dilakukan oleh Bethoven. Hanya saja, tarian dari jemari Bethoven bisa menghasilkan nada-nada yang melegenda dari pianonya. Yang dapat dinikmati oleh siapa saja yang mendengarkannya. Tapi aku, Jemari yang menari diatas keyboard ini hanya bisa dinikmati oleh aku sendiri. Tidak terdengar, tetapi ada. Entahlah. Akhir-akhir ini segala yang terasa samar dimata orang-orang, mejadi begitu jelas dalam pandanganku. Bahkan setan-setan yang bercokol pada sudut-sudut kamar,dan diatas meja kerjaku. Pada mulanya aku begitu merasa asing. Tapi kemudian ini sudah menjadi menu sehari-hari. Seperti telur setengah mateng yang selalu disiapkan oleh istriku setiap pagi.
Tak hanya dirumah, dikantorpun aku mengalami hal yang sama. Pernah suatu hari aku dipanggil oleh atasanku, Pak Gandhi. Sehubungan dengan laporan perjalanan dinasku ke Balikpapan beberapa waktu yang lalu. Karena perusahaan tempat aku bekerja akan membuka cabang disana. Pada saat aku memasuki ruangan Pak Gandhi seolah ada bayangan gelap menyelimuti ruangan itu. Dingin. Tubuhku megeluarkan keringat dingin. Ingin rasanya aku cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Tapi tak bisa. Kakiku serasa menjadi salah satu kutub magnet yang berlawanan dengan lantai. Aku hanya terpaku saja didepan meja atasanku itu. Sampai akhirnya dia mempersilahkan aku duduk. Aku mulai menjelaskan hasil laporanku padanya. Pada mulanya aku melihatnya, biasa saja. Walaupun aku mulai merasa tak nyaman sejak aku masuk ke ruangan ini. Perlahan-lahan aku mulai merasakan ada perubahan pada Pak Gandhi. Mula-mula aku melihat telapak tanganya yang ditumbuhi rambut halus kecoklatan. Semakin lama semakin menebal. Tapi, aku mencoba tak menghiraukannya. Aku terus menjelaskan laporanku. Tak hanya itu. Wajahnyapun berubah. Yah, Pak Gandhi tiba-tiba berwajah srigala. Matanya yang merah tajam menatapku. Aku semakin merasa tak nyaman. Oh....gila, degup jantungku semakin cepat. Matanya terus menatapku. Bibirku terkunci. Aku tak mampu meneruskan kalimatku. Bahkan tak satu hurufpun. Lebih-lebih ruangan ini semakin lama semakin terasa berguncang. Tubuhku terpental dari satu sudut ke sudut yang lain. Aku mulai tak kuat dengan keadaan ini. Sorot merah itu tak lepas mengikuti tubuhku yang terpental kesana kemari. Aku lelah. Dan kubiarkan saja gelap itu menghampiri.
“Mas...mas...kamu sudah sadar?”, aku mengenali suara itu. Aku melihat sekelilingku. Kenapa aku bisa dirumah. Yang kutau, terakhir aku berada dikantor untuk melaporkan perjalanan dinasku. Aku merasakan belaian lembut itu sebelum aku sadar. Memang tangan itu yang setia melayaniku selama tujuh tahun ini. Dari menghidangkan makanan, mempersiapkan baju, sampai menemaniku tidur. Yah, itu adalah tangan lembut Laras, istriku.
“Kamu tadi diantar oleh teman-teman kantormu. Katanya kamu pingsan. Aku jadi kuatir. Aku antar ke dokter ya?”, suara manjanya berbisik ditelingaku.
“Gak usah, aku baik-baik aja koq.”
“Kamu beda sejak pulang dari Kalimantan. Kata Pak Gandhi kamu pingsan waktu mau memberikan laporan perjalanan dinas itu. Apa ada yang mengganjal”, pertanyaan itu seolah memburuku.
“Apa aku seperti orang yang punya rahasia, Ras? Aku Cuma capek “, aku mencoba berdalih.
“Terserah, aku juga gak mau maksa kamu, Mas “, nadanya menyerah. Sambil berlalu meninggalkanku sendiri terbaring di kamar.
******
Laporan perjalanan dinas telah selesai kukerjakan. Proyek Kalimantan itu memang tanggung jawab besar buatku. Tapi syukurlah, aku bisa melewatinya tanpa suatu kendala yang berarti. Dan atasanku, Pak Gandhi juga puas dengan hasil kerjaku. Tadinya kupikir proyek Kalimantan itu yang mengusikku. Tapi ternyata tidak. Kamu benar Laras. Aku merasa ada suatu keganjilan yang belum kuselesaikan. Setan-setan yang bercokol disetiap sudut ruanganpun sekarang bukan sesuatu yang asing. Tak ada yang perlu ditakuti. Aku mulai terbiasa.
Hal yang tak membuatku biasa adalah kebiasaan istriku akhir-akhir ini. Aku sering menangkap basahnya menyiram bunga yang ia letakkan di sebelah kolam ikan di rumah kami. Menyiram bunga itu kegiatan wajar. Tapi kalau kegiatan itu dilakukan di tengah malam, sesaat setelah ia tersadar dari tidurnya, kupikir itu bukan sesuatu yang wajar. Dan itu bukan sekali. Aku menemukkan keganjilan itu sudah beberapa kali. Pernah aku menegurnya.
“ Kenapa kamu bangun malam-malam cuma buat siram bunga, Ras”, tanyaku.
“ Aku cuma ingin mewujudkan apa yang kamu inginkan”, jawabnya
“ Apa?”, balasku
“ Ah sudahlah, kita bicarakan lagi besok pagi. Aku sudah ngantuk”, seolah menghindar pertanyaanku.

Aku tak mengerti ucapnya. Sikapnya berubah 180 derajat dari tadi malam. Manis, dan tentu saja melayaniku dengan manja. Tidak seperti tadi malam, dingin. Aku mencoba membahas masalah keanehannya. Tapi dia seolah tidak mengerti dengan ucapanku.
“ Kamu ini ngomongin apa sih, mas. Jelas-jelas semalam aku tidur nyenyak banget. Kerjaanku banyak belakangan ini. Bukannya aku sudah cerita sama kamu. Sayang....aku tau kamu masih capek setelah pulang dari Kalimantan. Tapi bukan berarti kamu bisa mikir yang aneh-aneh tentang aku. Enak saja kamu”, ketusnya sambil melingkarkan kedua tangannya dibahuku. Mukanya masam. Tapi bibirnya yang basah begitu dekat dengan bibirku. Dia memang menginginkan aku cepat-cepat melumatnya. Sepergianku, kamu pasti sangat kesepian. Tujuh tahun pernikahan kita, di rumah ini hanya ada aku dan kamu. Memang begitu sepi, Ras. Huh....Laras, aku rindu padamu. Seberapapun dia mencoba mengatur nafasnya, degup jantung dan aliran darahnya sangat aku rasakan. Kulit kami bersentuhan. Dia begitu lihai menghapal ritme permainan ini. Menggeliat, mengejang, dan sofa menenggelamkan kami dalam kerinduan.
*****
Aku tak menemukan istriku di ranjang. Kulihat jam dinding, jam dua belas malam. Aku selalu terbangun di jam yang sama beberapa hari ini dan anehnya, dia selalu tidak ada dikamar. Seperti telah menjadi kebiasaan, aku tau kemana harus mencarinya. Belum sempat kuangkat tubuhku dari ranjang, kudengar teriakannya histeris. Secepat kuayunkan tubuhku melesat ke arah suaranya. Kudapati ia terduduk lemas sambil mengerung mengeluarkan air mata. Pot-pot bunga pecah disekitarnya. Namun tak satupun kudapati diantara pecahan pot dan tanah yang berserakan, bunga-bunga yang selalu di siram istriku setiap malam. Kudekati dia perlahan.
“Ada apa, Ras?”, tanyaku lirih.
“Mereka mengambil semuanya dariku, semuanya mas. Aku menjaganya agar rumah ini bisa terlihat indah. Agar rumah ini tak sepi lagi.”, isaknya sambil memelukku.
Ah......Rasti jangan buat aku menjadi semakin gila. Kau meranyau tak tentu arah. Aku tergopoh mengangkat tubuhnya kekamar. Kubaringkan tubuh layunya ke ranjang. Beberapa tetangga yang mendengar teriakan itu mendatangi rumah kami. Khawatir kalau-kalau terjadi apa-apa. Tapi aku berhasil meyakinkan mereka bahwa tak terjadi apa-apa.
Kupandangi wajah lembut istriku yang terlelap. Tak tersirat apa-apa selain kepedihan dan kerinduan. Aku tau, ada yang sangat ingin dia miliki. Rasa kesepian itu tak bisa dihindari, sekalipun aku selalu berusaha menyediakan waktu untuknya. Yah....tujuh tahun pernikahan kami adalah penantian. Berharap rumah kami akan ramai dengan tangis dan tawa anak-anak kecil yang menjadi obat pelepas lelah sepulang kerja. Melihat mereka tumbuh. Hanya keinginan sederhana sebenarnya. Tapi kenapa aku merasa begitu sulit mewujudkannya.
Aku tersentak dari lamunku. Kulihat istriku sudah mulai sadar. Namun bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu. Dia menarik bantal menutupi perutnya seolah ingin melindunginya. Aku semakin tak mengerti dengan tingkahya. Sorot matanya ketakutan seolah menunjuk sesuatu yang tak terlihat olehku. Achh...sial, mengapa kondisinya jadi berbalik begini. Aku masih tak mengerti apa yang ditunjuk Laras. Aku yakin apa yang dilihat Laras adalah mahluk-mahluk yang pernah ku lihat sebelumnya. Jari-jari tangan istriku bergetar, semakin lama semakin tak terkendali. Aku mulai mengutuk mahluk-mahluk itu. Mereka terus membuntutiku. Istriku semakin histeris. Aku mencoba menahannya. Tapi dia terlihat semakin ketakutan. Aku tak tau harus berbuat apa. Kuraih vas bunga yang ada dimeja dan kulemparkan kearah yang ditunjuk terus menerus oleh istriku. Tapi dia juga tak mengehentikan reaksinya. Tapi perlahan-lahan dia diam. Hanya tetesan bening menggenang diujung-ujung matanya. Oh istriku, aku berjanji akan memelihara bunga-bunga yang ada ditamanmu. Aku akan merawatnya. Dan tak kubiarkan ada yang merusaknya dan mengambilnya dari kita.

Batam, 26 September 2008

HUJAN DAN SAHABAT MATAHARI

Mereka dipertemukan oleh hujan. Diantara rasa cinta yang mendalam dan kegelisahan dalam luka yang membatu, mereka hanya bisa menerima kenyataan untuk memburu atau bersembunyi. Jika hujan mereda, keduanya terkubur dalam kehampaan. Luluh bersama butiran-butiran air yang menempel pada kaca jendela. Mengalir seperti deretan sungai kecil yang mencari muara.
****
Ia berlari bagaikan pemburu yang lapar. Matanya tajam berkaca seolah mengeja butiran air yang turun ke bumi satu persatu. Hujan adalah penantiannya. Setiap hujan turun, ia seakan tak bisa mengendalikan diri. Tawanya lepas bersama tarian yang ia bawakan dibawah hujan. Cukup lama ia tekurung dalam kesendiriannya. Sampai pada saat itu tiba, dilepaskannya semua kerinduan. Ketika hujan mereda dan menyisakan butirannya pada ranting dan bunga-bunga, ia hirup dalam-dalam aroma tanah yang basah. Tubuh ringkihnya tak lagi membungkuk layu. Hujan telah memberikan energi kepadanya. Hujan adalah kehidupan baginya. Orang-orang memanggilnya Gadis Hujan. Karena kecintaanya pada hujan telah buta dan tak terkendali. Orang tuanya sendiri telah buntu memikirkan apa yang terjadi pada putri semata wayang mereka. Dan merelakan semua itu menjadi sebuah kebahagiaan. Hanya terkadang kecemasan tak bisa dihindari. Karena hujan tak selalu datang sendiri. Terkadang ia datang bersama badai dan halilintar yang siap menyambar sewaktu-waktu. Namun gadis hujan merasa alam adalah satu kesatuan. Jika ia mencintai hujan, maka ia juga akan mencintai apa yang mengiringi hujan untuk sampai padanya. Fenomena alam yang hadir bersama hujan juga sahabat yang tak akan menyakiti.
Tangis ibunya lirih ketika melihat ia kembali layu diatas tempat tidurnya setelah hujan tak lagi menyapanya dalam beberapa hari. Energi yang ia dapatkan saat hujan turun mulai memuai. Awalnya mereka mengira semua itu akibat tenun yang dikirimkan oleh orang yang tidak senang dengan keluarga mereka. Tapi apa mungkin, mereka merasa tak pernah punya musuh dan berharap tidak akan pernah punya musuh. Kata-kata yang diucapkan dalam setiap pergaulan yang terjalin sebisanya disampaikan dengan santun dan berusaha tak menyakiti. Namun hati manusia siapa yang tahu. Bahkan mawar yang indahpun terkadang bisa melukai. Inikan pula lidah yang tak bertulang. Barangkali disetiap kata yang tertata ada juga yang menyisakan luka. Sehingga timbul amarah, dan akhirnya menjadi dendam yang membara dan dikirim lewat sumpah serapah. Itulah pikiran yang selalu singgah setiap kali memikirkan apa yang terjadi pada putri semata wayang mereka.
“Dara….Dara….Setan apa yang bersarang dalam tubuhmu, nak?”
“Husss…ngomong apa ibu ini, jangan terus menjadi tidak rasional begitu dong. Setan terlalu segan bersarang ditubuh putri kita, Bu.”
“Tapi diagnosa medis juga tidak menjawab apa yang terjadi pada putri kita, Pak.”
“Apalagi diagnosa Ki Jrago Brodo, yang setiap kesini cuma nyembur sana nyembur sini. Gak tahan aku, Bu.”
“Gak tahan kenapa, Pak?”
“Gak tahan dengan bau kemenyannya. Barangkali Dara juga, Bu. Makanya setiap Ki Jrago kesini dia lebih baik pinsan dari pada nyium bau menyannya itu.”
Keduannya tertawa kecil. Seolah membiarkan kepedihan itu menjadi guyonan yang menyelimuti kepedihan dan membiarkan semuanya menjadi lebih terasa hangat, ketimbang harus menyisakan kebekuan setiap saat. Tubuh sang Dara lunglai, tatap matanya kosong, namun kekosongan itu masih mampu menjadi energi yang menarik bibirnya untuk tersenyum seolah mendengar. Meski tipis, senyumnya ingin menjawab kegundahan semua orang tentang dirinya. Bahwa tak perlu ada yang dirisaukan. Dia hanya ingin menikmati hujan sebagai kehidupannya. Hanya itu.
***
“Jelita………keluar nak”, teriakan itu terdengar pedih.
“Sudahlah Bu. Dia akan keluar sendiri kalau dia sudah tenang”, lelaki yang berada dibelakang wanita yang menangis itu coba menenangkan.
Namun jelita tak kunjung keluar dari kolong tempat tidurnya. Ia tutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Telinganya ditutupi dengan kapas. Wajar jika ia tak mengindahkan panggilan ibunya. Atau mungkin dia samar mendengar, hanya saja pura-pura tak mendengar. Badannya beku, namun tak henti bergetar. Seolah dingin itu benar-benar telah merasuk keseluruh tubuhnya. Ketakutan itu menjadi-jadi ketika hujan datang. Hanya saja, rasa risau selalu ada dibenak ibunya. Dia tak sanggup melihat putrinya berlama-lama dibawah kolong yang sumpek yang mungkin bahkan kekurangan udara karena sekujur tubuh putrinya terlilit selimut tebal berlapis-lapis. Tak banyak yang bisa dilakukan atas keganjilan yang terjadi padanya. Hanya berharap agar hujan, kilat yang menyambar dan suara gelegar cepat mereda. Maka ia akan kembali seperti semula. Keluar dari kolong tempat tidurnya, mandi dan duduk manis didepan meja rias sambil mempercantik diri. Seolah tak terjadi apa-apa. Orang-orang menyebutnya Gadis Surya.
Hujan membuatnya jadi tak terkendali. Berlari-lari seperti diburu dan bersembunyi mencari tempat berlindung agar hujan dan fenomena yang menyertainya tak menemukannya. Entah kenapa, kolong tempat tidur dijadikan tempat persembunyian teraman baginya. Padahal hujan juga datang bersama matahari. Namun dia lebih merasa nyaman jika matahari datang sendiri.
***
Taman ini masih meninggalkan jejak hujan yang datang kemarin. Walaupun hanya sedikit, namun bagi sang Dara, itupun sudah cukup untuk dijadikan pasokan energi untuknya bila hujan datang terlalu lama. Tapi bagi Jelita, sisa hujan bukan masalah. Itu tak menunjukkan tanda-tanda bahwa hujan akan segera kembali. Dan dia bisa menikmati matahari yang datang sendiri sambil mecium bau bunga-bunga. Di taman ini mereka duduk dibangku yang sama. Seperti orang yang sudah berkenalan lama, satu sama lain bercerita tentang diri mereka masing-masing. Padahal mereka baru satu kali bertemu. Namun keduanya seperti kutub magnet yang berlawanan. Saling tertarik akan cerita yang disampaikan satu sama lain.
“Kau tak perlu takut akan hujan, Jelita. Karena hujan akan memberimu kehidupan”, Dara coba memberi kekuatan.
“Begitu juga kau, Dara. Kau harus sering-sering melihat matahari agar hangat itu datang padamu. Jangan terus menerus memburu hujan”, Jelita membalasnya.
Mereka dipertemukan oleh hujan. Satu sama lain saling memberi kekuatan sebelum mereka berpisah di taman yang menyisahkan hujan dan hangat oleh matahari. Tak ada lagi cerita tentang Gadis Hujan dan Gadis Surya. Keduanya telah terkubur bersama kehangatan serta kesejukan yang secara seimbang ditebarkan oleh dua gadis muda, Dara dan Jelita.

Batam, 6 Oktober 2008

Selasa, 09 September 2008

NYONYA CATHY

Sebenarnya aku kurang senang dengan pekerjaanku yang sekarang. Tapi ya bagaimana lagi ? Hanya ini pekerjaan yang aku dapat, setelah aku pontang-panting ngelamar kerja kesana-kemari. Lagi pula di kota besar ini, dengan status pendidikanku yang pas-pasan memang sulit kalau terlalu berharap untuk kerja kantoran. Yah tapi aku nikmati saja pekerjaanku yang sekarang, yang penting halal. Toh, hidup itu kan untuk dinikmati, bukan untuk ditangisi.

“ Hercules…………!” suara nyaring yang sedikit agak cempreng itu datang dari arah pintu depan.

Secepat kilat si Hercules yang sedari tadi berada dalam pelukanku meloncat dan berlari menghampiri suara yang memanggilnya itu. Sebenarnya aku sering iri dengan Hercules. Dia bisa dengan enaknya menjilati wajah cantik yang mulus itu. Dan kadang-kadang bermanja-manja dan bersandar pada dada bidang yang empuk itu. Tak jarang dia tertidur bila sudah begitu. Siapa yang tidak merasa nyaman berada pelukkan nyonya Cathy. Kalau diikutkan hati, akupun mau. Tapi nyatanya nyonya Cathy lebih merelakan tubuhya untuk dinikmati Hercules ketimbang aku. Dasar asu !!!

Bagaimanapun juga saat ini Hercules adalah sumber penghidupanku. Kalau saja nyonya Cathy tidak memelihara Hercules, mungkin aku masih jadi pengangguran. Tapi bukan karena Hercules aku bertahan bekerja menjadi seorang penjaga anjing. Aku hanya ingin lebih lama menikmati kecantikan nyonya Cathy.

Oh nyonya Cathy maafkanlah aku yang tidak tau diri ini. Yang dengan diam-diam telah jatuh cinta padamu. Begitu menggilai senyummu, mengagumi renyahnya tawamu, menjadi tak berdaya karena tatapan matamu, dan mencintai semua yang ada pada dirimu.

Aku bisa melihat kekosongan itu dimatamu, nyonya Cathy. Menjadi seorang janda muda yang hanya ditinggalkan dengan segala kemewahan memang tak mudah untuk dijalani. Aku juga tahu begitu inginnya kau menjadi seorang ibu. Yang melahirkan anak, menyusuinya dan mengasuhnya sampai ia dewasa. Tapi kenyataannya tuan Ron tidak sempat memberikan itu untukmu. Sehingga semua kekosongan itu hanya kau isi dengan berbelanja, arisan, bisnis, berlibur ke luar negeri atau ngelamun. Ah, andai saja aku bisa menjadi orang yang bisa mengusir kekosongan itu, nyonya Cathy. Sayangnya aku tak punya keberanian itu. Aku bahkan tak sanggup menatap matamu saat kau memerintahkan aku untuk mengajak Hercules berjalan-jalan. Atau sekedar melintas di depanku. Menghirup aroma parfummu yang sudah terasa pada jarak tujuh meter saja degup jantungku tidak bisa dikontrol. Mau copot rasanya.

Aku harus sadar dengan posisiku. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah menjadi pekerja yang bersikap manis di depan majikannya. Bekerja dengan rajin dan ulet. Dan yang terpenting adalah merawat Hercules agar tetap sehat, biar dia tidak cepat mampus. Supaya aku bisa lebih lama bekerja di rumah nyonya Cathy.

Malam sudah larut, aku melihat dia ngelamun di tepi kolam renang. Sambil sesekali menciumi Hercules. Dadaku semakin tergetar melihat setiap lekuk tubuhnya yang dibalut dengan baju tidurnya yang transparan. Pemandangan yang sudah biasa. Aku suka, dan aku tak ingin melewatinya. Tapi kali ini ada yang tak biasa dari kebiasaannya yang satu ini. Aku melihat dia menagis. Lirih dan pedih. Dia berbicara pada Hercules. Seolah-olah menceritakan sesuatu pada anjing semata wayang itu. Sesuatu yang sepertinya sulit keluar dari mulutnya.

“ Hercules, kau tahu kalau aku begitu mencinatai Ron. Aku menikahi dia bukan karena aku tergila-gila pada semua kekayaan dan kemewahan yang dia miliki. Tapi aku benar-benar menciantai dia. Walau jarak usia kami dua puluh dua tahun, dan dia lebih pantas menjadi ayahku ketimbang menjadi suamiku. Aku juga mengerti kalau dia begitu sangat mencintai aku. Tapi aku tidak suka dipaksa. Dan aku tidak ingin terus menerus hidup dalam tekanan, walaupun dengan orang yang aku cintai. Aku masih ingin menikmati masa mudaku. Aku belum mau melihat badanku melar gara-gara melahirkan. Atau menghabiskan waktuku dengan menyusui anak, menidurkannya dan mengajaknya jalan-jalan. Hercules……., sungguh ! aku tidak bermaksud menggugurkan kandunganku. Malam itu benar-benar membuatku binggung. Ron tau kalau aku telah melakukan aborsi. Dia marah besar. Sampai-sampai dia tega menyiksa aku. Satu hal yang tidak pernah dilakukannya selama kami menikah.Aku menjadi semakin takut. Saat itu aku merasa, kalau dia bisa melakukan itu pada hari ini, mungkin besok juga dia akan berbuat seperti itu lagi. Besok malamnya, aku memasukkan racun kedalam minuman yang biasa dia minum, sebelum meminum obat. Aku pikir orang-orang tak akan ada yang curiga. Karena orang tua itu memang sudah waktunya untuk mati. Hercules, aku menceritakkan ini semua kepadamu karena aku yakin kau bisa dipercaya. Kau tidak akan menceritakkannya pada siapa-siapa bukan ? “, tanyanya pada Hercules sambil terus terisak-isak.

Aku Cuma bengong. Tiba-tiba saja aku merasa, wajah nyonya Cathy yang cantik itu berubah menjadi wajah nenek sihir yang menakutkan.

Sri Ruwanti
Dedicated to Ayien

Senin, 25 Agustus 2008

SANG MONUMEN

Waktu adalah kendaraan yang tak pernah berhenti. Jika ia berhenti, maka berarti selesailah satu fase kehidupan. Setelah itu, waktu akan menyeret melaju ke fase kehidupan yang lain. Dan aku belum dapat membayangkan fase kehidupan dimana waktu juga akan menyeretku kesana. Tapi yang pasti, waktu jugalah yang membawaku kembali kesini. Kota dimana aku mencium hawa kehidupan untuk pertama kalinya. Cukup lama aku meninggalkan kota ini. Aku rindu dengan segala yang ada disini. Aku rindu sengat matahari yang menjilat permukaan laut. Aku rindu menghirup aroma asinya. Aku rindu mengotori bajuku dengan lumpur laut saat bermain bola ketika air surut. Aku rindu mencari kulit keong, kerang dan siput untuk kujadikan hiasan dinding yang membentuk huruf J. Dan kuberikan itu kepada Janah. Gadis yang membuat aku merasakan jantungku berdebar pertama kalinya ketika bertemu wanita. Ibuku juga wanita, dan aku juga berdebar jika melihat ibu kalau aku ketahuan habis mandi di laut. Ibu selalu khawatir kalau laut akan menyeretku jauh. Jadi kurelakan kedua telapak tanganku menerima sebatan rotan sebagai hadiah dari ketidak patuhanku atas nasehat ibu. Kupikir ibu tidak adil untuk hal yang satu ini. Dan tentu saja debaranku saat bertemu ibu beda dengan saat ku bertemu Janah. Aih….manis sekali anak itu. Ia lebih terlihat manis jika menyelipkan jepit rambut yang kubuat dari kulit kerang untuknya. Penghias rambut itu seolah-olah menari diatas hamparan samudera yang terbias matahari. Berkilau bagaikan butiran-butiran intan. Ingin aku menenggelamkan kedua tanganku kedalamnya. Lalu menghirupnya dalam-dalam. Ah sayang, Janah ditakdiran hanya supaya aku mengenal cinta. Selebihnya tidak. Sudah lama aku tidak bertemu dengan anak itu. Kira-kira bagaimana kabarnya sekarang. Ah..tapi kedatanganku kembali kesini bukan karena ingin bertemu dengannya.
Aku hanya ingin kembali menikmati monumen pahlawan yang dijadikan kebanggan kota ini. Dimana dulu aku sering bermain disana. Aku suka dengan arsitektur monumen itu. Walaupun terkesan sederhana, tapi bagiku mempunyai arti yang mendalam. Empat tiang penyanggah sebuah segi empat yang sedikit melengkung. Kira-kira menyerupai mangkuk. Tapi bisa juga terlihat seperti permadani yang sedang terbang. Diatas segi empat itu berdiri patung pahlawan yang mengenakan baju adat khas daerah ini dilengkapi dengan sarung keris dipinggangnya. Tangan kanannya mengacungkan keris dengan gagah.
Namun sekembalinya aku ke kota ini, aku tak menemukan monumen tersebut dalam keadaan utuh. Ada yang membuat monumen tersebut tampak tak sempurna. Aku tidak menemukan sang pahlawan berdiri diatasnya. Yang aku dengar patung itu hilang seketika. Tak ada yang mengetahui persis bagaimana cerita sebenarnya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa ingin tauku.
“Angin telah membawanya pergi. Alam begitu mengerti apa yang terjadi. Sudah saatnya kepiluan dihapuskan.”
Aku menolehkan wajahku seketika. Aku tak tau sedari tadi orang tua ini duduk disampingku yang tak melepaskan pandanganku dari monumen itu. Mungkin dia coba untuk menjawab apa yang mestinya cuma aku yang tau. Karena sedari tadi aku memang tidak berbicara pada siapapun perihal kebingunganku.
“Apa yang ingin bapak coba jelaskan pada saya?”

“Kerutan dikeningmu adalah tanda tanya, bukan?

“Oh jadi patung itu ambruk dihajar angin ya?”

“Kalau dihajar angin pasti orang-orang sudah menemukan serpihan patung itu pagi harinya.”

“Maksud bapak, patung itu hilang seketika”, aku semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan orang tua ini.

“Bukan hilang, tapi dibawa”.

Orang tua ini mulai ngawur. Dia mengatakan bahwa ada yang membawa patung itu pergi. Dan orang tua itu sempat bercerita bahwa malam dimana paginya patung tersebut dinyatakan hilang, hujan turun tak henti-henti. Anginpun seolah menguasai alam. Dingin merasuk sampai ke rongga-rongga tulang. Orang-orang hanya bersembunyi dibalik selimutnya masing-masing. Kota seakan mati. Jadi, memang tak ada yang tau persis kejadian malam itu. Paginya, orang-orang mendapati monumen tersebut masih tegak berdiri, hanya saja tanpa sang pahlawan diatasnya. Tak ditemukan tanda-tanda kalau patung tersebut ambruk dihajar angin. Semuanya seperti biasa.
Mulai saat itu, banyak mitos yang berkembang tentang patung itu. Ada yang bilang kalau patung itu sudah terisi jin. Jin tersebut sudah merasa nyaman dengan patung itu. Dan mulai bosan tinggal berlama-lama disana. Maka dari itu, dibawanyalah patung itu pergi mencari tempat yang baru. Dimana tempatanya? Itupun tak jelas.
Ada lagi yang mengatakan, bahwa sebenarnya patung tersebut memang benar-benar ambruk dan berderai jadi debu. Tapi karena patung tersebut adalah patung orang baik, maka alam membersihkan semua reruntuhannya. Sampai tak berbekas. Memang macam-macam cerita yang berkembang. Tapi orang tua ini mencoba meyakiniku bahwa ceritanyalah yang paling benar. Bahwa anginlah yang membawa sang patung pergi karena kesedihannya. Kalau cerita-cerita sebelumnya saja bisa membuatku tak yakin. Apalagi cerita pak tua ini. Omong kosong. Kalau memang angin bisa mengangkat patung itu. Berarti bisa mengangkat yang lain yang ada disekitarnya juga mestinya. Tapi kenapa yang lain ditinggalkan tersisa? Lho, kenapa jadi aku yang dibuat bingung? Sepertinya omongan orang tua itu tak boleh dibuang seratus persen.
Ah.....daripada aku lebih bingung, lebih baik biar kunikmati saja monumen yang kehilangan salah satu bagian terpentingnya ini. Kuputuskan untuk menghabiskan malam di taman kota dekat monumen tersebut. Dan aku harus rela berbagi dengan orang-orang yang memutuskan untuk tidak pulang kerumah mereka dan menghabiskan malam mereka di taman ini juga. Atau mereka malah tak tau harus pulang kemana. Mereka adalah orang-orang yang terdampar dan belum menemukan jalan pulang. Kesialan terbesar meraka jika dianggap sebagai perusak keindahan kota. Operasi ketertiban yang digelar semata-mata hanya membersihkan mereka terlihat saja. Padahal mereka ada dimana-mana. Bahkan disudut-sudut gedung megah di kota ini. Mereka tetap ada. Oh ya, apa jadinya kalau nanti aku dianggap salah satu bagian dari mereka. Ah gampang, kalau nanti ada razia kamtib, kan aku punya KTP. Dan kubilang saja aku sedang bertengkar dengan istriku dan malas untuk pulang kerumah.
Angin laut yang menyapu taman ini membiusku. Mataku sudah berat menikmati sepotong bulan yang tersaji manis di langit. Hening menyelimuti hangat tidur para pemimpi yang belum menemukan jalan pulang. Tak bisa ketepis kantukku, namun tak bisa juga kularut dalam mimpiku. Sayup-sayup kudengar dentuman musik dan sorak sorai seperti sekumpulan orang yang sedang memulai pesta. Namun semakin lama semakin jelas suaranya. Dengan pandangan berbayang kulihat sekelilingku. Aku tak menemukan apa-apa selain orang-orang yang masih terlelap. Aku menelentangkan tubuhku. Pandanganku tepat mengarah pada puncak monumen. Puncak monumen itu tidak terlihat seperti siang tadi. Sepi dan mati. Aku melihat puncak monumen itu seperti sebuah panggung pertunjukkan yang gemerlap. Lampu warna warni berputar-putar seirama dengan dentuman musik. Dua wanita sexy dengan pakaian gemerlap mengapit seorang DJ sambil menari dengan lincah dan terlihat sangat eksotis. Si DJ pun tidak terlihat lelah terus memainkan musik-musik yang membuat goyangan dua wanita sexy itu semakin panas. Aku menggosok kedua mataku agar aku bisa melihat lebih jelas. Aku takut salah lihat dan bisa jadi itu cuma halusinasi saja. Tak cukup menggosok mataku, kucubit pipiku keras-keras. Sial. Lain kali aku akan mencari cara lain untuk meyakinkan penglihatanku. Pipiku jelas-jelas terasa sakit. Berarti aku benar-benar sadar dengan apa yang kulihat.
Aku bergegas bangun dan melihat sekeliling. Namun tak satupun dari orang-orang yang ada disini menyadari apa yang terjadi di puncak monumen itu. Orang-orang yang berkendarapun tak ada yang menghentikan kendaraannya dan menyadari apa yang terjadi. Semua orang seperti benar-benar terlelap dalam mimpinya masing-masing. Baik dalam keadaan tidur, maupun secara sadar melakukan sesuatu. Dan aku dengar si DJ meneriakan ajakan untuk ikut bergoyang.

“ladies and gentleman, lets get the party started and shake your body........come on.....”

Dan orang-orang semakin larut dalam mimpi-mimpi mereka. Hanya aku yang terpaku dalam ketakberdayaan. Entah mengapa, dentuman musik itu semakin melekatkan rasa pedih dan getir. Aku jadi teringat cerita pak tua. Barangkali kalau cerita itu benar, pasti luka itu seperti apa yang kurasakan sekarang.
Sri Ruwanti
Batam, 1 Agustus 2008

Senin, 21 Juli 2008

KAKTUS PADA KAMERA SUAMIKU

KAKTUS PADA KAMERA SUAMIKU

Aku menemukan foto kaktus dikamera suamiku. Profesinya sebagai seorang wartawan foto. Mestinya aku tak curiga jika ia memotret apa saja. Itulah kehidupan seorang pencerita. Ya, ia bercerita dengan foto-fotonya. Bahkan kau tak pernah cemburu dengan ratusan foto wanita cantik pada kameranya. Tapi kaktus itu menggangguku. Memang ia terlihat begitu anggun. Namun tetap bersahaja.

“Foto ini bagus”, aku memulai pembicaraan.

“Oh…,aku gak sengaja menemukkannya. Indahkan? Bahkan dia tak tau kalau aku memotretnya.”

Tentu saja dia tidak tau. Kalau dia taupun, dia pasti tidak akan menolak untuk kau potret. Dari gayanya, memang dia berharap untuk kau potret. Ia sengaja memamerkan durinya yang bercahaya terbias matahari. Apa ini yang dikatakan intusisi seorang perempuan. Ia seolah bekerja memberi isyarat. Ada apa ini? Ah….kenapa aku harus cemburu pada kaktus.

* * *

Hari yang melelahkan. Udara panas ikut membakar isi kepala. Debu dan keringat berkolaborasi diatas permukaan kulit. Matahari memanggang tanah. Risih. Sial, udara dan kondisi seperti ini membuatku semakin gerah. Kalau bukan karena aku harus melengkapi kebutuhan dapurku, aku ogah harus keluar rumah. Minggu ini usaha cateringku kebanjiran order. Yah..hidup sudah semakin sulit, aku tidak bisa mengandalkan suamiku saja untuk menghidupi kami. Walaupun kecil-kecilan, usaha catering ini ternyata cukup membantu kami. Diawal pernikahan kami, sebenarnya mas Yusuf tidak mengizinkanku untuk bekerja. Dia memintaku untuk lebih fokus mengurusi keluarga. Dia merasa kuat untuk berjuang sendiri. Lebih-lebih setelah kehadiran putra kami. Dia memintaku untuk lebih fokus menjaga Luthfi.

Walaupun kesibukannnya yang tidak pernah berhenti (bahkan tidak memiliki jadwal yang jelas barangkali), tapi mas Yusuf selalu menyempatkan 1 hari dalam seminggu untuk kami berkumpul bersama. Entah itu rekreasi, belanja, makan, atau sekedar bermain dirumah.

Lama-lama aku merasa bosan dengan rutinitasku. Aku ingin ada kegiatan. Lalu kusampaikan niatku untuk bekerja. Awalnya ia menolak, karena dia keberatan kalau Luthfi tidak diasuh olehku. Tapi lama-lama dia mengizinkanku. Aku dapat meyakinkannya bahwa aku dapat mengasuh Luthfi sambil bekerja. Toh, aku bekerja di rumah. Jadi, aku punya banyak waktu untuk Luthfi

Huh, aku memandang sedikit ke belakang. Kenangan manis itu membuatku lupa sejenak pada keadaan kegerahan ini. Sampai aku menghentikan pandanganku pada satu titik. Jantungku berdegup kencang. Udara panas ini menembus kulitku, berhenti di jantung, lalu mengalir lagi melewati sel-sel darah. Aku menemukan suamiku bersama si Kaktus.
* * *
Purnama bersenggayut pada langit yang kelam. Cahayanya menyorot jalan yang menyisakan debu. Panas siang tadi membuat pohon-pohon ikut gerah dan melepaskan daunnya satu persatu ke tanah. Aku masih menatap keluar jendela. Putraku sudah terebah diatas kasurnya yang empuk. Tidurnya begitu nyenyak. Namun sesekali ia bergerak memutar arah badannya. Sudah jam 11 malam. Belum pernah aku segelisah ini. Suamiku belum juga pulang. Jarang aku menunggunya secara khusus seperti ini. Biasanya ia membawa kunci rumah sendiri. Dia tidak pernah berusaha membangunkanku bila saat ia pulang aku sudah tertidur. Tapi aku selalu tersadar bila ia sudah pulang. Aku memahami profesinya. Kejadian siang tadi menyisakan berjuta pertanyaan dalam benakku. Ah…kenapa kepercayaanku berkurang pada suamiku. Temanku pernah bilang kalau semua lelaki itu pada dasarnya kucing garong. Jadi kita tidak boleh 100% percaya padanya. Bukan, aku bukan tidak percaya. Tapi aku waspada. Karena aku mencintainya.

“Lho…kamu belum tidur?”, ia menyapaku.

“Kemana saja kamu seharian ini?”, memang terdengar konyol pertanyaanku ini. Ia mengerutkan keningnya, tersenyum pahit.

“Belum pernah aku mendengar pertanyaan sekonyol ini sejak kita menikah, Ras. Ada apa dengan kamu. Jangan memulai sesuatu yang tidak seharusnya kamu mulai, Rasti.”

Aku menarik napas panjang. Baru kali ini aku muak melihat wajah suamiku. Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang membuat dia pandai menyembunyikan kebohongan.
* * *
Suamiku tetap menyangkal perihal pertemuannya dengan kaktus. Pembicaraan kami tadi malam tak menyisahkan titik terang. Aku juga tidak ingin mengepung suamiku dengan berbagai pertanyaan. Pembicaraan kami berakhir di ranjang dengan posisi saling membelakangi. Aku berharap paginya ia akan membuatkanku telur setengah matang dan susu hangat. Seperti saat kami ada masalah. Hal semacam itulah yang sering dilakukannya sebagai awal permohonan maaf. Memang, aku tidak pernah memulai menyodorkan kata maaf setiap kami punya masalah.

Tapi kali ini lain. Ia sudah berangkat pagi-pagi sekali tanpa mencium keningku seperti biasa. Atau sekedar berpamitan. Entah apa yang terjadi pada kami. Aku berharap semua akan baik-baik saja. Dan mudah-mudahan ini tidak berlangsung lama. Memang dari awal kutemukan foto itu ada yang mengganjal dan seribu satu pertanyaan dalam diriku. Aku membenci kaktus.

Kupikir aku dapat melupakan kejengahanku dengan berjalan-jalan. Ternyata tidak. Pikiranku tidak bisa lepas dari sosok kaktus. Aku tak henti membayangkan sosok itu melepaskan satu-persatu durinya dan membusurkannya tepat di jantungku. Luka-luka itu masih kecil. Tapi duri-duri yang dilepaskan dari busurnya ini tak pernah berhenti. Luka-luka kecil itu akhirnya menganga. Aku tidak ingin luka itu terus merobek dan menghancurkanku. Aku masih memiliki putra yang harus kulindungi. Dan aku harus kuat untuk itu.

Luthfi, aku baru ingat kalau aku sudah terlalu lama meninggalkannya dirumah bersama pengasuh. Aku harus pulang. Kukemudikan mobilku secepat kilat menuju rumah. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang terjadi dirumah. Ah, tidak. Mudah-mudahan ini hanya perasaanku saja.

Aku melihat mobil suamiku rapi terparkir didepan rumah. Padahal ini belum waktunya dia pulang. Lagi pula tidak biasa dia pulang jam segini. Seribu tanda tanya mulai bermain dalam pikiranku. Perasaan yang sedari tadi memburuku semakin kencang memburuku. Degup jantungkupun semakin capat. Aku berjalan perlahan menuju pintu. Aku sedikit megintip dari jendela depan. Aku melihat putraku bermain bersama kaktus. Tidak hanya itu, suamikupun terlihat sumringah mengajak putraku bermain baersama kaktus.

Darah dalam otakku mengalir kencang. Aku berlari kepintu belakang dan memutuskan untuk memilih jalan itu agar ku bisa masuk ke rumah tanpa harus diketahui mereka. Seribu tanda tanya itu mulai terjawab. Tugasku selanjutnya adalah melindungi keluarga ini. Jangan sampai si kaktus membusurkan duri-durinya lagi. Tidak hanya kepadaku, tapi kepada anak dan suamiku juga. Tidak, aku tidak mau.

Aku melihat pisau dapur yang tersusun rapi. Sesaat aku sempat berkaca pada salah satu sisinya. Aku mencoba menggoreskannya pada ujung telunjukku. Setitik darah keluar dari irisan kecil itu. Sakit. Ya, akan lebih sakit lagi bila goresan itu kubuat lebih besar. Aku berjalan perlahan ke ruang depan. Kaktus masih mengajak suamiku dan putraku bersenang-senang. Aku semakin mendekat kearah mereka. Suamiku sesaat tersadar akan kehadiranku. Wajahnya bagaikan purnama, pucat pasi. Ia berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku tak punya waktu mendengar penjelasannya.

Kutarik kaktus itu dari genggaman putraku. Durinya menancap melukai telapak tanganku. Aku tak perduli. Kubalas serangan itu dengan mencabik-cabiknya sampai kumerasa dia sudah tidak dapat membalasnya lagi. Suamiku tak berbuat apa-apa. Hanya tertegun menatap yang baru saja terjadi sambil memeluk putraku yang sedari tadi melingkarkan tanganya ketubuh suamiku sambil menyembunyikan wajahnya. Memang dia tak perlu melihat apa yang baru saja terjadi.

“Apa yang kamu lakukan, Rasti”, suara suamiku terbata.

“Kamu tidak akan pernah bisa memelihara kaktus itu dirumah ini. Lagipula kaktus itu sudah tidak indah, bukan?”.

Kelepaskan pisau dari genggamanku. Kubasuh darah yang menyelimuti tangan. Aku merasa lelah sekali hari ini. Walaupun begitu, aku merasa tugasku sudah selesai. Sudah saatnya aku istirahat dulu.

Sri Ruwanti
Batam, 28 Mei 2008

PRAHARA DIKAMPUNG BETINA

Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, kampung betina geger dengan berita kehamilan Ganya. Sebenarnya bukan suatu hal yang mengherankan bila seorang perempuan hamil. Tapi apabila perempuan hamil itu berada pada suatu komunitas yang isinya perempuan semua, bagaimana bisa terjadi? Lalu, siapa yang menghamilinya. Apakah bisa jeruk minum jeruk? Seribu tanda tanya berkecamuk di pikiran masyarakat Kampung Betina.
Yah....namanya juga Kampung Betina, isinyapun pasti betina semua. Bagaimana mereka mengembangkan komunitasnya? Apakah mereka tak bereproduksi? Tentulah mereka bereproduksi. Semua kehamilan di program dan didata dengan sangat cermat oleh Badan Koordinasi Kehamilan Bangsa. Kehamilan harus melalui proses pengajuan permohonan kepada lembaga tersebut. Apabila disetujui, baru proses kehamilan akan dilaksanakan. Kehamilan para perempuan di Kampung Betina tidak melalui proses hubungan suami istri pada umumnya. Tapi cukup dengan menyuntikan cairan yang membantu proses pembuahan sel telur. Kampung betina tidak main-main dengan program ini. Meskipun cairan yang membantu proses kehamilan tidak ada dikampung tersebut, dikarenakan kampung tersebut berisi para betina, maka Queen Ratu pemimpin tertinggi Kampung tersebut bersedia mengimport cairan tersebut dari berbagai daerah. Tentunya yang memiliki kualitas terbaik. Kehamilan selalu diawasi. Bayi tidak boleh terlahir sebagai laki-laki. Ahli medis mereka bahkan telah menemukan formula untuk memastikan bahwa bayi yang terlahir adalah bayi perempuan. Singkat kata, semua kehamilan terdata dan harus melalui prosedur yang telah ditentukan.
Tidaklah heran, jika kehamilan Ganya membuat seisi kampung gempar. Kasus seperti ini benar-benar belum pernah terjadi. Kehamilannya tidak terdata di Badan Koordinasi Kehamilan Bangsa. Tentu saja hal ini membuat kecurigaan masyarakat Kampung betina. ”Laknat seperti apa yang berani menodai kesucian rakyat kampung betina”, murka Queen Ratu seketika setelah mendengar berita kehamilan Ganya. Lebih-lebih Queen Ratu sangat mengenalnya. Ganya staf berprestasi di pemerintahan Kampung betina. Queen Ratu pernah mengudangnya makan malam bersama, terkait dengan prestasi gemilangnya di pemerintahan. Namun kali ini Queen Ratu harus bertindak adil. Tidak peduli siapapun dia. Dan apa konstribusinya bagi kampung, sejauh dia bersalah, dia harus diadili.
Hamil diluar ketentuan hukum yang ada di Kampung betina adalah pelanggaran hukum. Queen ratu mengambil tindakan melakukan sidang akbar untuk kasus ini. Semua rakyat tumpah ruah di alun-alun Kampung Betina untuk menyaksikan persidangan ini. Tampak arena persidangan sudah dihadiri oleh hakim & pembela. Persidangan ini tinggal menunggu kehadiran Queen ratu. Ganya duduk di kursi terdakwa sambil tak henti-hentinya menangis. Dia merasa sudah dihakimi sebelum persidangan dimulai. Beribu pasang mata seolah mencambuk dengan tatapan dingin. Beberapa diantaranya bergerombol, membentuk kelompok kecil sambil sesekali mencibir kearah Ganya. Tiba-tiba praattt.....Telur busuk mendarat kearah jidatnya. Salah satu diatara mereka yang hadir di persidangan melemparkan kekesalnnya dengan cara yang anarkis. Sampai akhirnya pengawal-pengawal mengamankannya dan mengamankan suasana. Betina itu hampir saja memprovokasi massa. Dari mereka yang hadir ternyata masih ada yang merasa iba melihat Ganya. Diusapnya wajah mulus itu dengan sapu tangannya. Ganya hanya bisa tersenyum getir, seolah berkata ”Terimakasih nyonya”. Suasana masih riuh sampai akhirnya Queen Ratu memasuki arena persidangan.
Gong tiga kali berbunyi tanda persidangan akan dimulai. Suasana mulai hening. Orang-orang yang datang duduk teratur dan menyaksikan persidangan dengan seksama.
” Nona, dengan siapa nona melakukan perbuatan terkutuk ini”, tanya hakim.
”Saya tidak merasa apa yang saya lakukan terkutuk, sebagai manusia tentulah sewajarnya saya dihamili manusia juga. Saya juga melakukan dengan cara yang sah.”
”Tapi, bukankah nona tau peraturan di kampung ini ?”
”Ya, saya tau. Dan saya pikir, sudah saatnya peraturan itu di ubah”.
Suasana kembali riuh mendengar pernyataan Ganya. Ada yang langsung tidak menerima, mencibir, bahkan mengerutkan dahi berpikir mungkin pernyataan itu ada benarnya.
”Baiklah, tadi nona katakan, nona melakukannya dengan cara yang sah. Apa maksudnya?”
”Saya melaluinya dengan upacara yang sakral, yang menyatukan saya dan dia. Saya merasa prosesi itu membuat saya menjadi lebih sempurna. Mungkin itu yang tidak pernah dialami warga kampung kita, Hakim ketua.”
”Siapa dia yang nona maksud.”
Ganya tak menjawab hanya wajahnya saja yang tertunduk lesu.
”Nona, kami menunggu”, hakim seolah tak sabar mendengar pengakuan Ganya.
Queen ratu gelisah melihat kebisuan Ganya. Ia memerintahkan memanggil beberapa saksi. Beberapa saksi dihadirkan di persidangan itu. Baik yang berasal dari Kampung Betina sendiri, maupun beberapa tamu dari luar kampung yang sempat mengunjungi Kampung tersebut. Beberapa diantaranya tentulah laki-laki. Karena laki-laki pada kasus ini pantas dicurigai.
Sidang ditunda untuk menentukan keputusan. Beberapa saksi tak memberikan titik temu pada kasus ini. Ganyapun mengunci mulutnya rapat-rapat. Tapi keputusan harus tetap diambil. Segala sesuatu yang melanggar hukum harus menemui sanksinya. Para hakim berembuk membuat keputusan. Ketegangan menyelimuti kampung betina. Beberapa cerdik pandai mencoba memprediksi hasil keputusan.
Gong kembali berbunyi tiga kali, tanda persidangan dilanjutkan. Wajah Ganya tampak tegar, walaupun tak bisa disembunyikan kegalauannya. Sesekali butiran-butiran bening menetes dari ujung matanya. Ada kegelisahan dibalik wajah tegarnya. Galau itu miliknya hari ini. Diantara rasa cinta yang mendalam, dia biarkan mulutnya terkunci rapat-rapat. Tak satupun yang dapat mendobrak sebuah benteng yang berpondasikan kasih sayang, untuk melihat dengan siapa Ganya didalamnya. Keheningan kembali tercipta ketika hakim membacakan keputusannya.
”Demi keadilan di Kampung Betina, kami ketua pengadilan Kampung betina, berdasarkan surat gugatan yang diajukan oleh Kepala Badan Koordinasi Kehamilan Bangsa sebagai penggugat kepada Ganya Widasmara sebagai tergugat. Menimbang bahwa tergugat telah dengan jelas-jelas, menginjak-injak ketentuan hukum yang ada di Kampung Betina, maka pengadilan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman, mati, kepada tergugat.”
Palu diketuk tiga kali, tanda keputusan telah ditetapkan. Riuh kembali menggemuruh di arena persidangan. Queen ratu menarik napasnya dalam-dalam. Tampak ia sangat menyayangkan keputusan ini. Belum pernah keputusan semacam ini terjadi di kampung yang dipimpinnya. Namun toh, dia tidak boleh menjadi timbangan yang berat sebelah bagi rakyatnya. Sesaat setelah keputusan dibacakan, Ganya berdiri berlahan mendekati Hakim ketua.
”Saudara hakim yang saya hormati, saya akan menerima keputusan ini dengan suka cita. Tapi yang perlu anda ketahui, bahwa saya tidak akan mati sendiri. Jikalau kehamilan saya ini dikatakan sebagai sebuah kesalahan, maka biarkan saya menebusnya dengan pendosa lain yang juga melakukan hal yang sama.”
Ganya menarik belati dari balik gaunnya. Dilemparkannya belati itu, tepat menembus dada Queen ratu. Maka seketika, semua merona.

Batam, 15 Desember 2007
Sri Ruwanti

Tardji on perform